Perawatan Luka di Poliklinik RSUD Pulang Pisau oleh Muhamad Taher S.Kep

                                                           PERAWATAN LUKA

DI RUANG POLIKLINIK BEDAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH

 PULANG PISAU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

OLEH

MUHAMAD TAHER

NIP 19870919 201001 1 004

 

 

 

 

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PULANG PISAU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang Masalah

Luka adalah rusaknya struktur anatomis kulit normal akibat proses patologis yang berasal dari internal maupun eksternal dan mengenai organ tertentu (Poter & Perry 2006). Luka akut dan kronik berisiko terkena infeksi.Luka akut memiliki serangan yang cepat dan penyembuhannya dapat di prediksi.Contoh luka akut adalah luka jahit karena pembedahan, luka trauma dan luka lecet. Di Indonesia angka infeksi untuk luka bedah mencapai 2,30 sampai dengan 18,30% (Depkes RI, 2001). Pada luka kronik waktu penyembuhannya tidak dapat di prediksi dan dikatakan sembuh jika fungsi dan struktur kulit telah utuh.Jenis luka kronik yang paling banyak adalah luka dekubitus, luka diabetik dan luka kanker.

Seseorang yang menderita luka akan merasa adanya ketidaksempurnaan yang pada akhirnya akan menimbulkan gangguan fisik dan emosional. Ini berarti seseorang yang mempunyai luka akan mengalami gangguan kesehatan yang berdampak pada kualitas kehidupanya. Ada beberapa domain kualitas hidup yang akan terganggu apabila seseorang mengalami luka. Salah satunya adalah gangguan aktivitas sehari-hari sehingga tidak mampu bekerja yang akhirnya dapat berdampak pada masalah finansial.Respon emosionalpun terganggu karena adanya luka seperti bau, nyeri dan harapan hidup.Selain itu, interaksi sosial dapat terganggu kareana adanya kelemahan fisik, merasa luka kotor, dan bau.Semua hal tersebut dapat mempengaruhi rasa nyaman, baik fisik, psikis, maupun sosial.

Upaya yang dilakukan untuk mencegah komplikasi yang lebih berat diperlukan intervensi keperawatan luka yang efektif dan efisien.Isu terkini yang terkait dengan manajemen perawatan luka terkait dengan perubahan profil pasien, dimana pasien dengan kondisi penyakit degeneratif dan kelainan metabolik semakin banyak ditemukan. Kondisi tersebut biasanya sering menyertai kompleksitas suatu luka dimana perawatan yang tepat diperlukan agar proses penyembuhan bisa tercapai dengan maksimal (Carol, cit Kristyaningrum, Indanah & Swarto, 2013).

Pada awalnya para ahli berpendapat bahwa penyembuhan luka sangat baik bila luka dibiarkan tetap kering.Mereka berfikir bahwa infeksi bakteri apabila seluruh cairan keluar terserap oleh pembalutnya.Akibatnya sebagian besar luka dibalut oleh kapas pada kondisi kering.Perawat dituntut untuk mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang adekuat terkait dengan proses perawatan luka yang dimulai dari pengkajian yang komperhensif, perencanaan intervensi yang tepat, implementasi, evaluasi hasil yang diperlukan selama perawatan serta dokumentasi hasil yang sistematis. Isu lain yang harus dipahami oleh perawat adalah berkaitan dengan cost effectiveness, yaitu pemilihan produk yang tepat harus berdasarkan pertimbangan biaya (cost), kenyamanan (comfort), keamanan (safety). Perawat juga dituntut untuk meningkatkan skill dan pengetahuan tentang manajemen luka yang paling baik dengan memilih bahan perawatan yang efektif dan efesien (Saldi, cit Kristyaningrum, Indanah & Swarto, 2013).

Penggunaan dan pemilihan produk-produk perawatan luka kurang sesuai akan menyebabkan proses inflamasi yang memanjang dan kurang suplai oksigen ditempat luka. Hal-hal tersebut akan memperpanjang waktu penyembuhan luka. Luka yang lama sembuh disertai dengan penurunan daya tahan tubuh pasien membuat luka semakin rentan untuk terpanjan mikroorganisme yang menyebabkan infeksi (Morrison, 2004). Munculnya infeksi akan memperpanjang lama hari rawat. Hari rawat yang lebih lama akan meningkatkan risiko pasien terkena komplikasi penyakit lain.

Teknik perawatan luka telah berkembang pesat, yaitu teknik konvensional dan modern.Teknik konvensional menggunakan kasa, antibiotik, dan antiseptik, sedangkan teknik modern menggunakan balutan sintetik seperti balutan alginate, balutan foam, balutan hidropolimer, balutan hidrofiber, balutan hidrokoloid, balutan transparan film, dan balutan absorben. Dampak teknik perawatan luka akan mempengaruhi proses regenerasi jaringan sebagai akibat dari prosedur membuka balutan, membersihkan luka, tindakan debridement dan jenis balutan yang diberikan sehingga menimbulkan respon nyeri

 

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang yang telah dibahas diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: “ Perawatan luka secara modern  di Poliklinik Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Pulang Pisau ”

 

1.3  Tujuan Penelitian

1.3.1       Tujuan Umum

Mengetahui  perawatan luka modern pada luka  di poliklinik bedah Rumah Sakit Umum Daerah Pulang Pisau

1.3.2       Tujuan Khusus

  1. Memberikan gambaran proses perawatan luka secara modern terhadap proses penyembuhan luka di poliklinik bedah Rumah Sakit Umum Daerah Pulang Pisau
  2. Memberikan gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka pada pasien di poliklinik bedah Rumah Sakit Umum Daerah Pulang Pisau

 

1.4  Manfaat Penelitian

1.4.1       Manfaat Teoritis

Penelitian ini dapat menjadi tambahan pengalaman, memperluas wawasan pengetahuan teori dan praktik keperawatan medical bedah dalam bidang perawatan luka serta riset keperawatan khususnya mengenai efektifitas perawatan luka secara modern dengan lama hari rawat pada luka diabetik.

1.4.2       Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi instansi pendidikan keperawatan dalam prosedur perawatan luka dan sebagai referensi baru yang menarik untuk dikembangkan pada penelitian selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

2.1 Tinjauan Teori

2.1.1 Luka

2.1.1.1 Definisi

Luka adalah rusaknya struktur dan fungsi anatomis pada organ tertentu akibat proses patologis baik internal maupun eksternal (Lazarus et al, dalam Potter dan Perry, 2005). Berdasarkan uraian tersebut, maka kesimpulan dari definisi lukayaitu rusak atau terputusnya kontinuitas suatu jaringan akibat trauma, infeksimaupun akibat proses keganasan yang dapat menyebabkan fungsi tubuh terganggusehingga aktivitas sehari-hari dapat terganggu.

 

2.1.1.2 Klasifikasi Luka

Luka dapat digambarkan sebagai gangguan dalam kontinuitas sel-sel kemudian diikuti dengan penyembuhan luka yang merupakan pemulihan kontinuitas tersebut, luka dapat diklasifikasikan kedalam dua cara : sesuai dengan mekanisme cedera dan tingkat kontaminasi .

  1. Mekanisme Cedera

luka dapat digambarkan sebagai  :

  1. Luka Insisi

dibuat dengan dengan potongan bersih dengan menggunakan instrument tajam,sebagai contoh luka yang dibuat  oleh para ahli bedah dalam setiap prosedur oprasi.luka bersih biasanya ditutup dengan jahitan setelah semua pembuluh yang berdarah diligasi dengan cermat.

  1. Luka Kontusi

Dibuat dengan dorongan tumpul dan ditandai dengan cedera berat bagian yang lunak,hemoragi dan pembemkakan.

  1. Luka Laserasi

Adalah luka dengan tepi yang bergerigi ,tidak teratur,seperti luka yang dibuat oleh kaca atau goresan kawat.

  1. Luka Tusuk

Diakibatkan oleh bukaan kecil pada kulit sebagai contoh,luka yang dibuat oleh peluru atau tusukan pisau.

  1. Tingkat Kontaminasi

Luka dapat digambarkan dengan  :

  1. Luka Bersih

Adalah luka bersih tidak terinfeksi dimana tidak terdapat inflamasi dan saluran pernapasan,pencernaan atau saluran kemih yang tidak terinfeksi.luka bersih biasanya dijahit tertutup.

  1. Luka Kontaminasi Bersih

Adalah luka  bedah di mana saluranpernafasan,pencernaan atau perkemihan dimasuki dibawah kondisi yang terkontrol,tidak terdapat kontaminasi yang tidak lazim.

  1. Luka Terkontaminasi

Mencakup luka terbuka,baru,luka akibat kecelakaan dan prosedur  bedah dengan pelanggaran dalam tekhnik aseptic atau semburan banyak dari saluran gastrointestinal.

  1. Luka Kotor atau Terinfeksi

Adalah luka dimana organisme  yang menyebabkan infeksi pasca operatif terdapat  dalam Lapang operatif sebelum pembedahan.

 

2.1.2.3 Fisiologi Penyembuhan Luka

  1. Fase Inflamasi

Respon veskular dan selular  terjadi ketika jaringan terpotong atau mengalami cidera.vasokonstrksi pembuluh terjadi dan bekuan fibrinoplatelet terbentuk dalam upaya untuk mengontrol perdarahan .reaksi ini berlangsung dari 5 menit sampai 10 menit dan diikuti oleh vasodilatasi venula.

  1. Fase Proliferatif

Fibroblast memperbnyak diri dan membentuk jaringan –jaringan untuk sel-sel yang bermigrasi. Sel-sel epitel membentuk kuncup pada pinggirin luka kuncup ini berkembang menjadi kapiler,yang merupakan sumber nutrisibagi jaringan granulasi yang baru.

  1. Fase Maturasi

Sekitar 3 minggu setelah cidera,fibroblast mulai meninggalkan luk.jaringan parut tampak besar,sampai fibril kolagen menyusun kedalam posisi yang lebih padat.hal ini,sejalan dengan dehidrasi mengurangi jaringan parut tetapi meninggalkan kekuatan nya.

2.1.2.4 Bentuk –bentuk Penyembuhan Luka

Dalam penatalaksanaan penyembuhan luka,luka digambarkan sebagai :

  1. Penyembuhan Melalui Intense Pertama (penyatuan primer)

Luka dibuat secara aseptik,dengan pengerusakan jaringan minimum,dan penutupan dengan baik seperti dengan  suture,sembuh dengan sedikit reaksi jaringan melalui intense pertama.

  1. Penyembuhan Melalui Intense Kedua (Granulasi)

Pada luka dimana terjadi pembentukan pus (supurasi) atau dimana tepi luka tidak saling merapat,proses perbaikan nya kurang sederhana dan membutuhkan waktu yang lama.

  1. Penyembuhan Melalui Intense Ketiga (suture sekunder)

Jika luka dalam baik yang belum disuture atau terlepas dan kemudian disuture kembali nantinya,dua permukaan granulasi yang berlawanan disambungkan.

 

2.1.2.5 Penatalaksanaan Penyembuhan Luka

Sejalan dengan luka melalui fase-fase penyembuhan,banyak elemen seperti nutrisi yang adekuat,kebersihan,dan posisi menentukan seberapa cepat proses penyembuhan terjadi.Faktor-faktor ini dipengaruhi oleh intervensi keperawatan.

 

  1. Nutrisi

Kadar serum albumin rendah akan menurunkan defusi (penyebaran) dan membatasi kemampuan netrofil untuk membunuh bakteri. Oksigen rendah pada tingkat kapiler membatasi profilerasi jaringan granulasi yang sehat. Defisiensi zat besi dapat melambatkan kecepatan epitelisasi dan menurunkan kekuatan luka dan kalogen. Jumlah vitamin A dan C zat besi dan tembaga yang memadai diperlukan untuk pembentukan kalogen yang efektif. Sintesis kalogen juga tergantung pada asupan protein, karbohidrat, dan lemak yang tepat. Penyembuhan luka membutuhkan dua kali lipat kebutuhan protein dan karbohidrat dari biasanya dari segala usia. Malnutrisi menyebabkan terhambatnya proses penyembuhan luka dan meningkatkan terjadinya infeksi. Hal ini dapat timbul karena kurangnya intake nutrisi (misalnya sindrom malabsorpsi).

  1. Kebersihan diri/personal hygiene

Kebersihan diri seseorang akan mempengaruhi kebersihan luka, karena kuman setiap saat dapat masuk melalui luka jika kebersihan diri kurang.Adanya benda asing, kotoran atau jaringan nekrotik (jaringan mati) pada luka dapat menghambat penyembuhan luka, sehingga luka harus dibersihkan atau dicuci dengan air bersih/Nacl 0,9% dan jaringan nekrotik pada luka dihilangkan dengan tindakan yang disebut debrideman (debridement).

  1. Posisi

Yang dapat mempercepat proses penyembuhan luka, vaskularisasi yang baik dapat mempercepat proses penyembuhan luka, sementara daerah yang memiliki vaskularisasi kurang baik proses penyembuhan luka akan membutuhkan waktu yang lama. Luka yang terdapat didaerah yang relative sering bergerak proses penyembuhan lukanya akan terjadi lebih lama. Pada daerah yang tight (tegang) penyembuhan luka akan lebih lama disbanding daerah yang loose.

  1. Usia

Meningkatnya usia secara biologi akan mempengaruhi fungsi tubuh seseorang. Proses penyembuhan pada usia tua terhambat karena terjadinya penyakit misalnya artritis atau keganasan dan pemakaian terapi obat-obatan. Menurunnya aktifitas dan sumber keuangan akan menyebabkan menurunnya status nutrisi.

  1. Gangguan sensasi dan gerakan

Gangguan aliran darah yang disebabkan oleh tekanan dan gesekan benda asing pada pembuluh darah kapiler dapat menyebkan jaringan mati pada tingkat lokal. Gerakan atau mobilisasi diperlukan untuk membantu sirkulasi khususnya pembuluh darah balik (vena) pada ekstermitas bawah.

 

2.1.2.6  Komplikasi luka

  1. Hematoma (hemarogi)

Balutan diinspeksikan terhadap hemarogi pada interval yang sering selama 24 jam setelah pembedahan. Hemoragi ini biasanya berhenti secara spontan tetapi mengakibatkan pembekuan didalam luka.

  1. Infeksi (sepsis luka)

Infeksi luka bedah adalah infeksi nosokomial kedua terbanyak dirumah sakit selainitu,kebersihan dan disenfeksikan lingkungan juga penting.

  1. Dehisens dan Eviserasi

Komplikasi ini terjadi akibat jahitan terlepas,infeksi dan yang lebih sering lagi setelah batuk yang kuat atau mengejang.

 

2.1.3Perawatan Luka Modern

2.1.3.1 Konsep Modern Dressing atau Metode Moisture Balance

Menurut Putra. E (2013) beberapa macam modern dreassing yaitu :

  1. Dressing berdasarkan evidence based :

Lingkungan lembab /moist berhubungan dengan beberapa pendapat dari Rove et al (1972):tanpa proses perpanjangan fase implasi, Modden et al (1989): lebih cepat karatinocite proliferasi, Winter (1962): lebih cepat proses migrasi, Kats et al (1991):meningkatkan proses fibrolast proliferasi, Leipziger et al (1985):meningkatkan proses sintesis collagen gats dan Holloway: mengurangi nyeri.

Menurut seaman (2002) dressing yang ideal adalah: mempertahankan lingkungan lembab pada luka, menyerap eksudat, mengangkat jaringan mati. Keajaiban moist dressing: absorbent, moisture balance, debridement, pain control, cost effective.

Ada 5 konsep kerja moist dressing: pembalut luka memberikan kelembaban (wound hydration dressing) contoh : hydrogel, pembalut luka menjaga kelembaban (moist retentive dressing) contoh : hydrocolloid (pasta sheat dan powder), pembalut luka penyerap cairan (exudate management dressing ). Contoh : hydrofiber (aquacel ,caltostat,aginate dan foam), Pembalut luka sebagai proses debridement (debridement wound). Contoh : hydrogel ,trans-parans film,ekstrak nanas, Pembalut luka sebagai anti mikroba/bakteri. Contoh: supratulle,siver dressing,cutisorb sorbact, curasalt, anticoat, indosorb

 

  1. macam produk moist dressing
  2. Memberikan kelembaban
  3. Hydrogel

Berbahan dasar gliserin atau air yang di produksi untuk memberikan kelembaban pada luka. Saat tersedia dalam bentuk amorphous gel,sheet (lembaran ) dan impregnated dressing. Contoh :duoderm gel,intraset gel,suprasorb G

Kelebihan yang dimiliki dressing ini: memberikan kelembaban, membantu proses autolitik debridement, mengurangi nyeri, bisa mengisi rongga dan mudah di bersihkan, bisa mnyerap sedikit eksudat

Kekurangan dressing ini: memerlukan balutan sekunder, bisa menyebabkan maserasi di kulit sekitar luka, dalam bentuk amorphous gel tidak bisa digunakan untuk mengatsi sinus.

  1. mempertahankan kelembaban
  2. Semi fermiabel film dressing (film)

Terbuat dari polyurethane film yang tipis, melekat pada kulit dan bisa digunakan sebagai balutan sekunder ataupun primer.contoh : opsite,tegaderm,derma film,suprasob f,leukomed T.

Kelebihan yang dimiliki dressing jenis ini : permiabel untuk gas, memungkinkan terjadi nya penguapan, impermiabel terhadap cairan dan bakteri, memudhkan melihat kondisi di balik film.

Kekurangan yang dimiliki dressing jenis ini : tidak menyerap eksudat, tidak sesuai untuk luka dengan eksudat sedang atau banyak, bila tidak hati-hati dalam melepas dapat terjadi trauma jaringan

  1. Hydrocoloid

Bahan utama hydrocoloid adalah carboxymethylcelulose yang bersifat lentur lengket danbisa berubah kenjadi gel.indikasi penggunaan nya adalah untuk m,empertahankan kelembaban luka.hydrocoloid tersedia dalam bentuk sheet,pasta,dan [powder (contoh : suprasorb,duaderm,CGH duederm extra thin,duederem pasta dll)

Kelebihan yang dimili dressing jenis ini : mempertahankan kelembaban luka, menyerap exudat dari tingkat minimal sampai sedang,tidak tembus air, mudah mengikuti kontur tubuh atau luka, mengurangi nyeri, bisa berfungsi efektif selama 5-7 hari tergantung pada jumlah eksudat, bisa mengisi rongga luka.

Kekurangan yang dimiliki decreeing ini : tidak bisa digunakan pada luka infeksi terutama pada jenis bakteri anaerob, bila menempel pada kulit yang rapuh bia menumbulkan kerusakan, tepi dressing mudah menggulung (untuk jenis sheet), pada saat pelepasan bisa tercium bau yang sedikit menyengat

 

  1. menyerap cairan (absorben)
  2. Foam

Berbahan polyurethane foam yaitu sel-sel foam yang terbuka hingga mampu menyerap eksudat dan menahannya dengan baik tersedia dalam betuk sheet dan pengisi rongga (filter). Indikasi pengguanaannya adalah luka dengan  eksudat yang berlebihan contoh: allevyn non adhesive,allevyn plus,suprasorb PU dll.

Kelebihan yang dimiliki dressing jenis ini : tidak lengket, menyerap eksudat dengan kapasitas banyak, tahan air, membantu membentuk lingkungan luka yang lembab, tidak tembus bakteri.

Kekurangan yang di miliki dressing jenis ini : lingkungan lembab yang dibentuk oleh foam yang tidak cukup membantu proses autolysis, sering memerlukam balutan sekunder,terutama jenis filler

  1. Calsiun alginate

Terbuat dari polisakarida alami yang bersal dari rumput laut.memiliki efek hemostasis sehingga mampu menghentikan perdarahan minor,tidak lengket pada permukaan luka,menyerap eksudat dan perubahan menjadi gel kontak dengan jaringan tubuh.tersedia dalam bentuk sheet dan robe. Contoh : kaltostat,sorbsan,curasorb,comfeel plus,dll. Inidkasinya untuk luka yang mudah berdarah dan bereksudat

Kelebihan dreesing ini : membentuk lingkungan lebab pada luka, menyerap eksudat, mengurangi nyeri,melembabkan syaraf – syaraf tepi, jarang sekali menyebabkan alergi, digunkan untuk mengisi rongga sinus, berefek hemostatis mudah dibersihkan.

Kekurangan dressing ini : memerlukan balutan sekunder, gel yang terbentuk sering di anggap sebagai pus atau slough.

  1. Hidrofiber

Terbuat dari serat carboxymethylcellulose yang mampu menyerap banyak eksudat dan berubah menjadi gel sehingga tidak menimbulkan trauma jaringan saat penggantian balutan contoh : aquacel

Kelebihan dressing ini : mempertahankan lingkungan lembab pada luka, menahan cairan di dalam dressing sehingga tidak menimbulkan maserasi, bisa digunakan pada luka infeksi, lebih menyerap di banding alginate, tidak terjadi trauma jaringan pada saat pelepasan, bisa bertahan diluka sampai 7 hari (tergantung banyaknya eksudat).

Kekurangan dressing ini: memerlukan balutan sekunder, sering menimbulkan keracunan dengan pus/slogh bisa sudah bercampur dengan eksudat.

 

  1. proses debridement
  2. Hydrogel

Berbahan dasar gliserin atau air yang di produksi untuk memberikan kelembaban pada luka.saat tersedia dalam bentuk amorphous gel, sheet (lembaran) dan impregnated dressing.contoh :duoderm gel,intraset gel,suprasorb G

Kelebihan yang dimiliki dressig ini: memberikan kelembaban, membantu proses autolitik debridement, mengurangi nyeri, bisa mengisi rongga dan mudah di bersihkan, bisa mnyerap sedikit eksudat.

Kekurangan dressing ini: memerlukan balutan sekunder, bisa meneyebabkan maserasi di kulit sekitar luka, dalam bentuk amorphous gel tidak bisa digunakan untuk mengatsi sinus

  1. Semi fermiabel film dressing (film)

Terbuat dari polyurethane film yang tipis, melekat pada kulit dan bisa digunakan sebagai balutan sekunder ataupun primer.contoh : opsite,tegaderm,derma film,suprasob f,leukomed T.

Kelebihan yang dimiliki dressing jenis ini : permiabel untuk gas, memungkinkan terjadi nya penguapan, impermiabel terhadap cairan dan bakteri, memudahkan melihat kondisi di balik film.

Kekurangan yang dimiliki dressing jenis ini : tidak menyerap eksudat, tidak sesuai untuk luka dengan eksudat sedang atau banyak, bila tidak hati-hati dalam melepas dapat terjadi trauma jaringan.

  1. anti mikroba/kuman/ bakteri
  2. Tulle gras

Berbahan katun atau rayon yang diisi dengan paraffin lembut.beberapa tipe tulle gras,slain di isi paraffin juga di isi dengan anti septic dan anti biotic.digunakan secara luas untuk luka-luka superficial akut . contoh : bactigrass, supratule,daryatule.

Kelebihan dressing ini : memberikan kelembaban pad luka, paraffin yang ada mengurangi pelengketan pada luka

Kekurangan dressing ini: tidak menyerap eksudat, memerlukan balutan sekunder, jaringan granulasi bisa masuk ke jaringan –jaringan, dressing dengan isi antiseptic atau antibiotic tidak lagi di rekomendasikan karena masalah sensivitas dan resistensi pada bakteri.

  1. Antimikroba dressing

Penggunaan  antibiotic yang berlebihan menjadi “pisau bermata dua” bagi pengguanaan nya.kecenderungan resistensi bakteri terhadap antibiotic sangat meresahkan para professional dibandingkan kesehatan yang berkembang  pesat telah mengemukakan dressing anti mikroba dengan system slow release

  1. Silver

Silver sudah digunakan sejak lama dalam perawatan luka karena kemampuannya untuk membunuh kuman.silver yang di lepas ke area yang lembab bisa meningkatkan kecepatan reepithelisasi sekitar 40 % di banding dengan antibiotic .penggunaan silver dressing di batasi 2-4 minggu contoh : aquasel silver,anticoat.

  1. Cadexomer iodine

Mengandung 0,9 % iodine dan beraksi slow release (lepas pelan – pelan) di dalam luka kandungan cadexomer di dalamnya membuat cadexoder iodine bisa menyerap ekudat dan di saat bersamaan melepas iodine sedikit demi sedikit secara perlajhan lahan .aplikasi maksimum di suatu waktu adalah 50 mg dan tidak lebih dari 150 mg dalam 1 minggu contoh : iodosorb.

  1. Hypertonic saline impregnated

Kasa yang diisi dengan saline hypertonis dalam bentuk kering (Kristal) atau basah (cairan).cairan hipertonis ini membuat dressing bisa di bersihkan luka melalui aksi osmotic dengan cara membuang jaringan nekrotik dan eksudat purulen. Indikasi penggunaaan nya untuk luka-luka nekrotik yang lembab,bereksudat banyak serta luka terinfeksi . contoh : curasalt.

Kelebihan : agresif debridement (support autolysis), mengurangi bau, mempertahankan kelembaban luka, menyerap eksudat, dilaporkan efektif untuk mengurangi jaringan hiper granulasi

Kekurangan : bisa menyebabkan rasa tidak nyaman(perih), memerlukan pergantian yang lebih sering, memerlukan dressing sekunder, tidak direkomendasikan untuk luka yang mudah berdarah

  1. Hydrofobik

Terbuat dari katun yang dilapisi bahan aktif dialkycar-bamoilcloride yang bersifat hydrophobic kuat.sifat ini sama dengan karakteristik bakteri sehingga mereka saling berikatan secara fisika dan dengan pergantian dressing bakteri yang ada di permukaan luka jhuga akan terangkat .dressing ini di gunakan pada luka bersih terkontainasi atau luka terinfeksi dengan eksudat contoh : cutisorb sorbact

 

Sri Haryati dkk (2009) dalam jurnal Modern Dressing Improve the Healing Process in Diabetik Wound mengemukakan :

Perawatan luka yang diberikan pada pasien harus dapat meningkatkan proses perkembangan luka.Perawatan yang diberikan bersifat memberikan kehangatan dan lingkungan yang lembab pada luka Kondisi yang lembab pada permukaan luka dapat meningkatkan proses perkembangan perbaikan luka, mencegah dehidrasi jaringan dan kematian sel. Kondisi ini juga dapat meningkatkan interaksi antara sel dan faktor pertumbuhan. Olehkarena itu balutan harus bersifat menjaga kelembaban dan mempertahankan kehangatan ada luka.menjaga kelembaban dan kehangatan area luka.Jenis balutan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Alginet,Hidrofiber, Hidrogel. Pada luka dengan exudasi sedang sampai tinggi dan luka basah dengan terowongan yang dalam digunakan Alginet.Sedangkan pada luka yang basah dan luka yang cenderung kering digunakan Hidrogel. Gel yang terbentuk pada luka mudah dibersihkan dan dapat memberikan lingkungan yang lembab pada luka. Kondisi ini dapat meningkatkan proses angiogenesis, proliferasi sel, granulasi dan epitelisasi.

(Rachma Nurullya & Megah Andriany.2013,dalam jurnal Penggunaan Pembalut Herbal Sebagai Absorbedpada Modern Dressing)  mengemukakan :

Pada teknik perawatan luka modern,luka dipertahankan dalam kondisi lembab(Miguel et. al, 2007). Kondisi ini didasarkan teori antara lain : terbentuk pada luka kronis yang dapat dihilangkan lebih cepat oleh netrofil dan selendotel dalam suasana lembabmempercepat angiogenesis, karena keadaan hipoksia pada perawatan luka tertutup akan merangsang pembentukan pembuluh darah lebih cepatmenurunkan resiko infeksi,kejadian infeksi relatif lebih rendah daripada perawatan tipe keringmempercepat pembentukan growth factor yang berperan untuk membentuk stratumcorneum dan angiogenesis, yang produksinya akan lebih cepat pada suasanalembabmempercepat pembentukan sel aktif, karena invasi netrofil yang diikutioleh makrofag, monosit dan limfosit ke daerah luka berfungsi awal dalam suasana lembab.

Pemilihan balutan pada teknik perawatan luka modern harus memenuhisyarat. Syarat-syarat tersebut antara lain dapat menyerap cairan yang dikeluarkanmluka (absorbing), mampu mengangkat jaringan nekrotik dan mengurangi resikoterjadinya kontaminasi mikroorganisme (non viable tissue removal), meningkatkan kemampuan rehidrasi luka (woundrehydration), melindungi dari kehilangan panas tubuh akibat penguapan, dan kemampuan sebagai sarana pengangkat atau pendistribusian antibiotik ke seluruhbagian luka (Hartman, 1999; Ovington,1999 dalam Agustina, 2010).Perawat harus dapat menentukan jenis balutan yang sesuai dengan kondisi lukaklien.Kondisi luka dengan eksudat yang banyak, tentunya membutuhkan balutandengan daya serap yang tinggi sekaligus berfungsi sebagai antibiotik. Tujuanpenelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan pembalut herbal sebagai absorbed pada modern dressing untuk luka akibat diabetes mellitus.

 

2.1  Balutan Modern

Kemajuan ilmu pengetahuan dalam perawatan luka telah mengalami perkembangan yang sangat pesat.Hal ini tidak terlepas dari dukungan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.Perkembangan ilmu tersebut dapat dilihat dari banyaknya inovasi terbaru dalam perkembangan produk bahan pembalut luka modern.Bahan pembalut luka modern adalah produk pembalut hasil teknologi tinggi yang mampu mengontrol kelembapan disekitar luka.Bahan balutan luka modern ini di disesuaikan dengan jenis luka dan eksudat yang menyertainya.

Menurut Briant (2007), Jenis-jenis balutan luka yang mampu mempertahankan kelembaban antara lain:

  1. Alginat

Alginat banyak terkandung dalam rumput laut cokelat dan kualitasnya bervariasi.Polisakarida ini digunakan untuk bahan regenerasi pembuluh darah, kulit, tulang rawan, ikatan sendi dan sebagainya. Apabila pembalut luka dari alginat kontak dengan luka, maka akan terjadi infeksi dengan eksudat, menghasilkan suatu jel natrium alginat. Jel ini bersifat hidrofilik, dapat ditembus oleh oksigen tapi tidak oleh bakteri dan dapat mempercepat pertumbuhan jaringan baru.Selain itu bahan yang berasal dari alginat memiliki daya absorpsitinggi, dapat menutup luka, menjaga keseimbangan lembab disekitar luka, mudah digunakan bersifat elastis.antibakteri, dan nontoksik.

Alginat adalah balutan primer dan membutuhkan balutan sekunder seperti film semipermiabel,foam sebagai penutup. Hal ini disebabkan karena balutan ini menyerap eksudat, memberi kelembaban, dan melindungi kulit di sekitarnya agar tidak mudah rusak.Untuk memperoleh hasil yang optimal balutan ini harus diganti sekali sehari.Balutan ini dindikasi untuk luka superfisial dengan eksudat sedang sampai banyak dan untuk luka dalam dengan eksudat sedang sampai banyak sedangkan kontraindikasinya adalah tidak dinjurkan untuk membalut luka pada luka bakar derajat III.

 

  1. Hidrogel

Hidrogel tersedia dalam bentuk lembaran (seperti serat kasa, atau jel) yang tidak berperekat yang mengandung polimer hidrofil berikatan silang yang dapat menyerap air dalam volume yang cukup besar tanpa merusak kekompakkan atau struktur bahan. Jel akan memberi rasa sejuk dan dingin pada luka, yang akan meningkatkan rasa nyaman pasien. Jel diletakkan langsung diatas permukaan luka, dan biasanya dibalut dengan balutan sekunder (foam atau kasa) untuk menyerap eksudat, memberi kelembaban, dan melindungi kulit di sekitarnya agar tidak mudah rusak.Untuk memperoleh hasil yang optimal balutan ini harus diganti sekali sehari.Balutan ini dindikasiuntuk luka superfisial dengan eksudat sedang sampai banyak dan untuk luka dalam dengan eksudat sedang sampaibanyak sedangkan kontraindikasinya adalah tidak dinjurkan untuk membalut luka pada luka bakar derajat III.

  1. Foam Silikon Lunak

Balutan jenis ini menggunakan bahan silikon yang direkatkan, pada permukaan yang kontak dengan luka.Silikon membantu mencegah balutan foam melekat pada permukaan luka atau sekitar kulit pada pinggir luka.Hasilnya menghindarkan luka dari trauma akibat balutan saat mengganti balutan,dan membantu proses penyembuhan. Balutan luka silikon lunak ini dirancang untuk luka dengan drainase dan luas.

  1. Hidrokoloid

Balutan hidrokoloid bersifat”water-loving”dirancang elastis dan merekat yang mengandung jell seperti pektin atau gelatindan bahan-bahan absorben atau penyerap lainnya. Balutan hidrokoloid bersifat semipermiabel, semipoliuretan padat mengandung partikel hidroaktif yang akan mengembang atau membentuk jel karena menyerap cairan luka. Bila dikenakan pada luka, drainase dari luka berinteraksi dengan komponen-komponen dari balutan untuk membentuk seperti

jel yang menciptakan lingkungan yang lembab yang dapat merangsang pertumbuhan jaringan sel untuk penyembuhan luka. Balutan hidrokoloid ad Hasilnya menghindarkan luka dari trauma akibat balutan saat mengganti balutan, dan membantu proses penyembuhan. Balutan luka silikon lunak ini dirancang untuk luka dengan drainase dan luas.Balutan jenis ini biasanya diganti satu kali selama 5-7 hari, tergantung pada metode aplikasinya, lokasi luka, derajat paparan kerutan-kerutan dan potongan-potongan, dan inkontinensia. Balutan ini diindikasi kan pada luka pada kaki, luka bernanah, sedangkan kontraindikasi balutan ini adalah tidak digunakan pada luka yang terinfeksi.

  1. Hidrofiber

Hidrofiber merupakan balutan yang sangat lunak dan bukan tenunan atau balutanpita yang terbuat dari serat sodium carboxymethylcellusole, beberapabahan penyerap sama dengan yang digunakan pada balutan hidrokoloid. Komponen-komponen balutan akan berinteraksi dengan drainase dari luka untuk membentuk jel yang lunak yang sangat mudah dieliminasi dari permukaan luka. Hidrofiber digunakan pada luka dengan drainase yang sedang atau banyak, dan luka yang dalam dan membutuhkan balutan sekunder.Hidrofiber dapat juga digunakan pada luka yang kering sepanjang kelembaban balutan tetap dipertahankan (dengan menambahkan larutan normal salin). Balutan hidrofiber dapat dipakai selama 7 hari, tergantung pada jumlah drainase pada luka

(Briant, 2007)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jenis-jenis Perawatan luka modern di RSUD Pulang Pisau

  1. Perawatan luka dengan Hidrogel dan Terasorb

 

  1. Perawatan luka dengan Softratule

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Smeltzer Suanne & G. Bare Brenda.(2002).Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta:EGC

 

Kariadi Sri Hartini KS.(2009).Diabetes? Siapa Takut.Bandung:Qanita

  1. Long Barbara.(1996).Keperawatan Medikal Bedah.Bandung:Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjajaran

 

Sinaga,Mediana& Tarigan,Rosiana.2012.Penggunaan Bahan Perawatan Luka: 2-3.

 

Witanto,Daniel.,Handoko,Yudhi.,Sandy.dkk.2007.Gambaran Umum Perawatan Ulkus  pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Imanuel Bndung: 1-2.

 

Abidin,Khourul Risa.,Suriadi &Ardiningsih,Utami.2013.Faktor Penghambat Proses Poliferasi Luka  Foot Ulcer pada pasien di Klinik Kitamura Pontianak: 3-5.